laporan bunga flat dan annuitas

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Dalam sebuah industri perusahaan yang masih aktif beroperasi pastilah ada biaya yang melatarbelakangi proses produksi. Terdapat berbagai jenis pembiayaan antara lain biaya dasar untuk modal usaha yakni untuk pembelian bahan baku, biaya pengolahan, biaya transport dan lain-lain. Biaya tambahan contohnya biaya pemeliharaan alat produksi dan biaya sewa gedung dan tanah untuk industri dan lain-lain. Bagi tiap-tiap industri memiliki kuantitas biaya yang berbeda-beda, semuanya tergantung atas usaha yang dijalankan oleh industri tersebut. Semakin komplek unit industrinya maka pembiayaan akan semakin besar dan beragam.
Biaya produksi merupakan salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam penentuan harga jual produk. Untuk produk yang bisa dibeli secara angsuran maka akan lebih banyak variabel yang harus diperhitungkan dalam daftar biaya penjualan produk tersebut antara lain adalah asuransi kerusakan atau kehilangan produk yang terjadi oleh konsumen terhadap produk kreditan kita. Berdasarkan jenisnya macam suku bunga kreditan barang ada dua yakni suku bunga flat dan suku bunga annuitas. Pengertian dari bunga flat atau bunga tetap adalah bunga yang dihitung hanya dari induk tanpa memperhitungkan bunga yang telah diakumulasi dalam periode sebelumnya. Sedangkan bunga annuitas atau bunga berbunga adalah bunga yang dihitung dengan besarnya bunga pada suatu periode dihitung berdasarkan induk yang ditambah denga besarnya bunga yang telah terakumulasi pada periode sebelumnya. Perbedaan mendasar dari kedua bunga tersebut adalah besar bunga dan angsuran yang harus dibayar saat melunasi biaya pelunasan kreditan barang yang telah dibeli secara kredit.
Pengetahuan dan pemahaman terhadap biaya produksi dan beban produksi penting bagi seorang penjual barang dengan sistem tunai (cash). Sedangkan bagi seorang penjual yang berjualan dengan sistem kreditan maka pengetahuan dan pemahaman yang baik dan penting dilakukan adalah pemahaman dan 
pengetahuan terhadap biaya produksi, beban produksi, dan juga perhitungan dalam memanajemen besar bunga yang diberikan kepada konsumen yang membeli barang kreditannya dan jenis bunga yang akan diberikan pada konsumen tersebut. Rata-rata untuk penjual yang menjual barang kreditan dengan harga dibawah 100 juta akan menggunakan bunga flat karena lebih menguntungkan. Rata-rata untuk kreditan yan bernilai diatas 100 juta akan menggunakan bunga annuitas. Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari biasaya dilkukan oleh pihak perbankan, bak memberikan pinjaman pada masyarakat dengan pinjaman yang berbunga flat. karena bunga flat lebih aman bagi bank saat bank tersebut berani memberikan pinjaman pada masyarakat yang membutuhkan modal.

B.Tujuan Praktikum
1.Praktikan mampu memahami pola suku bunga flat dan annuitas.
2.Praktikan mampu mengidentifikasi beberapa kekuatan dan kelemahan masing-masing pola pijaman.
3.Praktikan memahami cara kreditur dalam menentukan pola penerapan suku bunga.
4. Praktikan mampu memahami dan dapat menerapkan pola pengambilan pinjaman dari beberapa kreditur/bank.
5.Praktikan mampu menerapkan dalam kehidupan bisnis di masa datang.


BAB II
LANDASAN TEORI
Bunga berjalan berbeda dengan sistem bunga flat. Bunga flat merupakan system perhitungan bunga yang mengacu pada pokok hutang awal. Biasanya perhitungannya digunakan pada peminjaman barang konsumtif seperti handphone, mobil dan produk lainnya. Perhitugan buga flat ini dibayarkan berbarengan dengan angsuran setiap bulannya. Sedangkan bunga berjalan merupakan jenis perhitungan bunga yang dihitung berdasarkan hutang yag tersisa setelah pembayaran setiap bulanya. Hal ini menyebabkan setiap bulannya bunga yang harus dibayar semakin mengecil atau tidak sama antara satu bulan dengan bulan selanjutnya walaupun mungkin saja angsuran yang harus dilakukan sama besarnya(Anonim,2012).
Dalam bentuk paling dasar, imbalan bunga dihitung denga menggunakan suku bunga sederhana (simple interest rate). Susku bunga sederhana berasumsi bahwa bunga dibayarkan pada saat jatuh tempo tanpa peduli periode jatuh temponya, apakah tahunan, triwulanan atau bulanan. Untuk membantu memahami ini, coba bawa pikiran anda ke luar dari pasar financial formal. Di masyarakat, anda bisa menemukan transaksi pinjam-meminjam dengan suku bunga yang dihitung setiap bulan atau dua bulan atau tiga bulan(Cahyana,2004).
Bunga majemuk adalah bunga yang timbul pada setiap ahir jangka waktu tertentu (tahun/bulan) yang mempengaruhi besarnya modal dan bunga setiap jangka waktunya. Modal dan bunga semakin bertambah pada setiap jangka waktunya. Modal dan bunga pada tahun/bulan tidak ada kaitannya lagi dengan modal dan bunga pada tahun/bulan selanjutnya. Perbedaanya, kalau bunga majemuk besar bunga pada setiap periodenya tidak sama, sedangkan bunga tungal pada setiap periodenya sama(Syamsuddin,2011).
Kenaikan dari suku bunga annuitas relatif pada pertumbuhan aset secara finansial yang berimplikasi pada pengurangan laju intermediasi dan batasan profitabilitas pada bunga cicilan dana annuitas, dan pengurangan antusias padaa sebuah isu baru yang tentang peraturan suku bunga annuitas atau bunga berbunga. Peningkatan biasanya dipengaruhi juga oleh laju minat untuk beberapa laju suku 
bunga annuitas yang berimplikasi pada pertumbuhan pada manajemen keuangan dan batasan profitabilitas dan suku bunga awal yang menjadi pemasok pendapatan pada gambar A2.1 tampak pemasok berada pada bagian kanan. Pergantian dalam stuktur pasar menghasilkan konsentrasi industri berkembang menjadi lebih besardan kenaikan kekuatan monopoli sehingga bisa menguasai sebuah kontraksi pemasok utama pada gambar A2.1 dan posisi pemasok utama berada pada bagian kiri(Thorburn,2007).
Perhitungan metode flat adalah biaya bunga dihitung atas dasar saldo awal bukan sisa saldo yang dihitung hingga ahir periode pinjaman, sedangkan setiap periode cicilan pokok yang dibayar mengurangi saldo pinjaman. Jika digambarkan akan berbentu segitiga, sehingga biaya bunga yang dibayar ± 2 kali lipat dari sebenarnya (Efektif). Perhitungan bunga flat bukanlah perhitungan bunga rat-rata, perhitungan bunga rata-rata sebenarnya adalah perhitungan bunga denga metode anuitas(series present value)(Zaharudin,2006).


BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A.Alat dan Bahan
1.Alat
a.Alat tulis
b.Kertas HVS
c.Kalkulator

2.Bahan
a.Brosur kreditan mobil
b.Modul praktikum ekonomi teknik

B.Prosedur Praktikum
1.Sebelum praktikum dimulai, praktikan dan asisten terlebih dahulu membuka praktikum dengan membaca do’a menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
2.Praktikan belajar selama beberapa menit sebelum pre-test dilakukan.
3. Praktikan mengerjakan soal pre-test yang telah diberikan oleh asisten.
4. Praktikan menghitung bunga flat.
5.Praktikan menghitung bunga annuitas.
6.Praktikum selesai, sebelum praktikum diakhiri praktikan berdoa sesuai agama dan kepercayaan msing-masing.


BAB IV
ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil
1.Hasil perhitungan bunga flat
Diketahui:
a.Harga : 429.300.000
b.DP : 77.665.000
c.Angsuran : 34.085.000
d.P= Harga – DP
= 429.300.000 – 77.665.000
= 351.635.000
e.n (periode) : 12 bulan.
f. I = (n x A) –P
= ( 12 x 34.085.000) – 351.635.000
= 57.385.000
Ditanya : i
a.cara 1
I = P x i x n
57.385.000 = 351.635.000 x i x 12
i= 0,163 %
b.cara 2
i= (A x n )-P
P
= (34.085.000 x 12) – 351.635.000
351.635.000
= (409.020.000) – 351.635.000
351.635.000
i= 0,163 %
2.Hasil perhitungan bunga annuitas
a.cara 1
A=P (A/P,i,n)

(A/P,i,n) = A/P
= 34.085.000
351.635.000
= 0,0969
X1 = 0,02 Y1 = 0,0946
X2 = 0,025 Y2 = 0,0975
X = X1 + [ (X2 - X1) ( Y2 – Y) ]
Y2 – Y1
= 0,002 + [0,005 x (0,006)
0,0029
= 0,002 + (0,001035)
= 0,021 = 2,103 %

B.Pembahasan
Bunga Flat atau bunga sederhana adalah bunga yang sistem perhitungannya besarannya mengacu pada pokok hutang awal. Atau secara kata lain bunga sederhana adalah bunga yang dihitung hanya dari induk tanpa memperhitungkan buang yang telah diakumulasikan pada periode sebelumnya. Biasanya diterapkan untuk kredit barang konsumsi seperti handphone, home appliances, mobil atau kredit tanpa agunan (KTA). Dengan menggunakan sistem bunga flat ini maka porsi bunga dan pokok dalam angsuran bulanan akan tetap sama. Misalnya besarnya angsuran adalah satu juta rupiah dengan komposisi porsi pokok 750 ribu dan bunga 250 ribu. Maka, sejak angsuran pertama hingga terakhir porsinya akan tetap sama.
Secara matematis hal ini bisadiekspresikan sebagai berikut: besar bunga yang terjadi adalah hasil dari perkalian induk yang dipinjam atau diinvestasikan dengan tingkat bunga tiap peroide dan jumlah periode yang dilibatkan. Sedangkan bunga annuitas atau bunga majemuk atau bunga berbunga adalah bunga yang timbul pada setiap ahir jangka waktu tertentu (tahun/bulan) yang mempengaruhi besarnya modal dan bunga setiap jangka waktunya. Modal dan bunga semakin bertambah pada setiap jangka waktunya.

Modal dan bunga pada tahun/bulan tidak ada kaitannya lagi dengan modal dan bunga pada tahun/bulan selanjutnya. Perbedaanya, kalau bunga majemuk besar bunga pada setiap periodenya tidak sama, sedangkan bunga tungal pada setiap periodenya sama. Dan dengan kata lain bila kita menggunakan bunga majemuk maka besarnya bunga pada suatu periode dihitung berdasarkan besarnya induk ditambah dengan besarnya bunga yang telah terkumulasi pada periode sebeluunya.
Keuntungan yang diperoleh dari bunga sederhana atau bunga flat salah satu diantaranya adalah bunganya yang tetap, tidak terpengaruh oleh perubahan ekonomi dan politik. Sedangkan kekurangan dari bunga sederhana ini adalah sistemnya memberatkan pada peminjam karena bila dihitung ulang bunga dari bunga sederhana ini tinggi. Kerugian lainnya adalah hutang dan uga hutangan tidak bisa dilunasi sewaktu-waktu ketika peminjam ada kesempatan dan ada dana untuk menutup semua hutang sekaligus bunganya. Kerugian lainya yang diakibatkan dari peminjaman dengan suku bunga sederhana ini adalah pembayaran harus pas pada waktunya jika telat atau ingin membayar pada tanggal lebih awal dari tanggal yang telah ditentukan akan dikenakan biaya denda kerena dianggap menyalahi aturan yang telah dibuat sebelumnya.
Keuntungan yang diperoleh dengan mengguankaan bunga nniutas atau bunga majemuk adalah karena bunga bersifat kondisional maka lebih menguntungkan konsumen atau peminjam dan bunga ini bisa dilunasi sewaktu-waktu ketika peminjam memiliki daya dan kekuatan untuk melunasi hutang dan bunganya. Sedangkan untuk kekurangannya adalah karena sukubunga yang dihitung perbulan, maka ketika terpengaruhi oleh perubahan ekonomi dan perubahan politik yang ada. Bagi seorang konsumen yang menginginkan meminjam dengan nilai pinjaman yang cukup besar akan lebih baik jika mengambil bunga efektif atau bunga anuitas ini, karena kelak saat usahanya sudah berkembang maka hutang dan bunga bisa dilunasi sewaktu-waktu.
Perhitungan dalam menentukan bunga flat ini yang pertama kali dilakukan adalah menetukan benda yang akan diambil kredit kemudian menentukan berapa lama angsuran yang digunakan dan besar first payment

yang digunakan kemudian menuliskannay pada lembar HVS yang telah diberikan sebelumnya. Kemudian mulai menghitung (P) atau induk yang dipinjam denagn cara mengurangi harga barang dengan yang dibeli dengan first payment setelah itu ditemukan hasil dari induk pinjaman adalah sebesar 351.635.000 rupiah kemudian menghitung bunga yang terjadi dalam rupiah dengan cara mengalikan terlebih dahulu antara jumlah periode yang dilibatkan dengan angsuran atau first payment baru kemudian hasil dari perhitungannya dikurangi dengan induk pinjaman dan hasilnya adalah sebesar Rp.57.385.000.
Dan kemudian mencari tingkat bunga per periode dengan cara pertama dengan langkah membuat persamaan sebanding antara bunga yang terjadi adalah hasil dari induk yang dipinjam dikali dengan tingkat bulan tiap periode dan dikali juga dengan jumlah periode yang dilibatkan dan ditemukan hasil bahwa tingkat bunga tiap periode sebesar 0,163% dan cara kedua yang bisa digunakan untuk menentukan tingkat bunga tiap periode dengan langkah mengalikan terlebih dahulu antara angsuran atau first payment yang dipakai dengan jumlah periode yang dilibatkan kemudian hasilnya dikurangi dengan induk yang dipinjam setelah itu hasilnya dibagi dengan induk yang dipinjam dan hasilnya dalah sebesar 0,163%.
Kemudian untuk menghitung bunga majemuk atau bunga annuitas dengan cara membuat persamaan sebanding antara angsuran atau first payment adalah hasil dari induk yang dipinjam dikalikan dengan hasil perkalian yang telah lebih dahulu dikerjakan yakni perkalian antara angsuran atau first payment yang telah dibagi dengan induk yang dipinjam dengan tingkat bunga tiap periode dan jumlah periode yang dilibatkan.dan didapatkan hasil sebesar y = 0,0969 dan variabel y1 sebesar 0,0946 yang diperoleh dari pencarian nilai yang berada dibawah nilai dari (y) yang telah ditemukan yakni sebesar 0,0969 sedangkan x1 sebesar 0,02 yang diperoleh dari pencarian besar tingkat bunga dari suku bunga y1 yang teryata berada pada tabel tingkatan bunga sebesar 2% atau dalam desimal adalah sebesar 0,02.
Kemudian niali y2 yakni 0,0975 yang diperoleh dari pencarian nilai yang berada diatas nilai dari (y) yang telah ditemukan yakni sebesar 0,0969 dan nilai 
x2 sebesar 0,025 yang diperoleh dari pencarian besar tingkat bunga dari suku bunga y2 yang teryata berada pada tabel tingkatan bunga sebesar 2,5%.Kemudian niali x (bunga annuitas per tahunya diperoleh denga cara membuat persamaan sebanding antara penjumlahan nilai x1 yang ditambah dengan hasil perkalian dari perhitungan sebelumnya antara x2 dikurangi x1 kemudian dikali denga hasil pembagian antara pengurangan y2 dikurangi y yang sebelumnya dibagi dengan hasil pengurangan antara y2 denga y1dan didapatkan hasil bunga annuitas adalah sebesar 0,021 atau 2,103%.
Manfaat yang diperoleh dengan perhitungan bunga flat dan annuitas diantaranya adalah mampu memahami pola suku bunga flat dan annuitas, mampu mengidentifikasi beberapa kekuatan dan kelemahan masing-masing pola pijaman, memahami cara kreditur dalam menentukan pola penerapan suku bunga, mampu memahami dan mampu menerapkan pola pengambilan pinjaman dari beberapa kreditur/bank serta mampu menerapkan dalam kehidupan bisnis di masa datang.
Contoh penerapan bunga flat dan annuitas dalam kehidupan keseharian biasanya dilakukan oleh para kreditur-kreditur dan instalasi peminjaman modal pada masyarakat misalnya bank-bank. Kemudian untuk bunga flat biasanya diterapkan untuk kredit barang konsumsi seperti handphone, home appliances, mobil atau kredit tanpa agunan (KTA). Yang kisaran harganya masih dibawah 100 jutaan dan umumnya penerapan bunga majemuk atau bunga annuitas adalah bunga kreditan yang diterapkan pada kreditan barang-barang yang bernilai diatas 100 jutaan misalnya kreditas rumah hunian dan kreditan mobil

BAB V
PENUTUP
A.Kesimpulan
1.Bunga flat adalah
2.
3.
4.
5

B.Saran
1.Untuk acara praktikum akan lebih baik apabila diskusinya di tempat yang sejuk dan rindang.
2.Untuk laboratorium manajemen sistem industri akan lebih nyaman saat didalam laboratorium apabila laboratorium selalu wangi dan sejuk.
3.Untuk assisten, mohon agar saat diskusi bisa dimulai,berjalan dan berahir tepat waktu.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2012.Pengertian Bunga Berjalan.Dalam http://www.beritaterkinionline. com/2012/09/pengertian-bunga-berjalan.html diakses pada 28 april 2013 1:03

Cahyana, Jaka E.2004.Langkah Taktis Metodis Berinvestasi DiObligasi.PT.Elek Media Komputindo.Jakarta

Syamsuddin.2011.Matematika SMK 2 kelompok Bisnis dan Manajemen. Grasindo.Jakarta

Thorburn, Craig dan Roberto Rocha.2007.Developing Annuities Markets The Experience of Chile.The World Bank.Washington DC


Zaharuddin, Harmaizar.2006.Menggali Potensi Wirausaha.CV Dian Anugrah Prakasa.Bekasi

laporan break even point

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Bisnis adalah usaha menukarkan barang atau jasa yang kita miliki dengan suatu keuntungan. Profit yang diharapkan oleh suatu usaha bisnis tidak hanya keuntungan yang berupa uang tapi juga jaminan kelangsungan daur kehidupan produk dan instalasi bisnis tersebut. Disamping itu aspek-aspek ekonomi makro dan ekonomi mikro pun berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan usah bisnis. Dan keadaan ekonomi saat ini relative tidak menentu dan sulit ditebak. Maka dari hal itulah yang melatar belakangi adanya suatu metode pengkuran kelayakan suatu usaha bisnis. Ada beberapa metode analisis kelayakan terhadap suatu usaha bisnis.
Pembelajaran mengenahi analisis kelayakan dengan metode Break Even point atau BEP adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan / profit. BEP (break even point) sangatlah penting ketika kita membuat suatu usaha karena dengan penganalisaan dengan metode Break Even point atau BEP maka kita dapat menganalisa tingkat prosentase kita untuk mengalami kerugian dan apakah itu usaha jasa atau manufaktur akan lebih kecil seiring berjalannya waktu. Karena dalam penganalisaan dengan Break Even point atau BEP ini kita juga memperhitungan dan memeperkirakan kelayakan suatu usaha untuk tetap terus dilakukan dan perkiraan terbaik ketika kita ingin membuka suatu usaha.
Manfaat dari analisis kelayakan suatu perusahaan berdasarkan analisis dengan metode BEP antara lain : metode analisis merupakan alat perencanaan untuk hasilkan laba pada suatu perusahaan, metode BEP memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan, metode BEP ini bisa mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan, metode ini bisa mengganti sistem laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti. Setelah kita mengetahui betapa manfaatnya BEP dalam usaha yang kita rintis, kompenen yang berperan disini yaitu biaya, dimana biaya yang dimaksud adalah biaya tetap,biaya variabel dan total biaya secara keseluruhan. Yang mana pada prakteknya untuk memisahkannya atau menentukan suatu biaya itu biaya variabel serta biaya tetap 
bukanlah pekerjaan yang mudah, Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh kita untuk produksi ataupun tidak, dan biaya ini bersifat tidak habis dalam sekali proses produksi sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produksi jadi kalau tidak produksi maka tidak ada biaya ini dan besar biaya ini sangat bergantung pada besar kuantitas produk yang diproduksi dalam suatu proses produksi produk.
Kesimpulannya bahwa dengan pembelajaran mengenahi analisis kelayakan suatu perusahaan perindustrian menggunakan metode analisis break even point (BEP) ini bertujuan sebagai tolak ukur keberlangsungan usaha bisnis yang kita tekuni. Karena poin awal dan terpenting dalam suatu bisnis adalah menukarkan barang ataupun jasa yang kita bisniskan dengan keuntungan. Secara kongrit keuntungan yang diperoleh dapat diukur dari seberapa besar keuntungan material yang mampu diraih oleh suatu usaha bisnis dan seberapa lama daur hidup usaha bisnis tersebut.

B.Tujuan Praktikum
1.Melakukan analisis kelayakan investasi dari suatu industri pertanian dengan analisis BEP (Break Even point).
2.Menggunakan perangkat lunak komputer sebagai alat untuk melakukan analisis suatu proyek investasi.
3.Menganalisa dan menentukan startegi pengembangan industri pertanian yang dapat diterapkan perusahaan berdasarkan hasil analisa ekonomis yang telah dilakukan.


BAB II
LANDASAN TEORI
Analisa break even point adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variable, keuntungan dan volume kegiatan. Karena analisa break even point tersebut mempelajari hubungan antara baiya keuntungan – volume kegiatan, maka analisa (break even point) tersebut sering pula disebut “cost-profit-volume analisis”(CPV analisi). Analisa break even point merupakan “profit planning approach” yang mendasarkan pada hubungan antara biaya (cost) dengan penghasilan (revenue)(Anonim,2012).
Apabila digunakan konsep “contribution margin” maka break even point akan tercapai pada volume penualan dimana contribution marginnya sama besarnya dengan biaya tetap. Karena analisa break even point tersebut mempelajari antara ‘revenue minus biaya variabel’ atau ‘contribution to fixed cost’ di satu pihak dengan biaya tetap dilain pihak, maka sering dikatakan bahwa analisa break even point merupakan salah satu alat untuk mempelajari ‘operating leverage’. Operating leverage terjadi setiap waktu dimana suatu perusahaan mempuntyai biaya tetap yang ahrus ditutup betapapun besar volume kegiatanyaa(Halim,2006).
Analisis break even point dapat direkomendasikan sebagai analisa terhadap biaya marginal yang perlu diperhatikan dan memiliki potesi yang besar untuk memicu permasalahan (utamanya masalah harga) dan dan jalan untuk mengatasinya adalah menjadikan masalah –masalah tersebut juga sebagai solusinya. Margin dari keamanan dalam sebuah aplikasi yang menerapkan konsep analisis break even point yang mana dengan memperkirakan presentase dari penurunan serta perubahann penjualan yang biasa terjadi akibat departemen kehilangan konsumen dan kehilangan nama brandinya dimasyarakat(Herkimer,1986).
Metode profitability Index (PI) atau disebut juga dengan istilah Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) merupakan perbandingan nilai sekarang aliran kas masuk dimasa mendatang dengan nilai investasi. Analisis keputusan dengan menggunakan profitability Index adalah jika nilai profitability Index kurang dari 1 maka sebaiknya ditolak dan jika profitability Index diatas 1 maka sebaiknya investasi dipertimbangkan untuk diterima(Muljo,2006).
Pendapatan atau omzet merupakan seluruh aliran uang yang diterima produsen dari hasil penjualan produk. Sementara, keuntungan merupakan selisih antara pendapatan dengan total biaya. Keuntungan dapat juga diartikan sebagai selisih antara harga penjualan dengan harga pokok penjualan. Indikator yang biasa digunakan diantaranya break even point(Suryani,2011).


BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A.Alat dan Bahan
1.Alat
a. Alat tulis.
b.Kertas HVS.
c.Kalkulator.
2.Bahan
a.Data hasil kunjungan Industri
b.Modul Praktikum

B.Prosedur Praktikum
1.Sebelum praktikum dimulai, praktikan dan asisten terlebih dahulu membuka praktikum dengan membaca do’a menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
2.Praktikan belajar selama beberapa menit sebelum pre-test dilakukan.
3.Praktikan mengerjakan soal pre-test yang telah diberikan oleh asisten.
4. Praktikan menghitung harga produk pada industri yang telah dikunjungi.
5.Praktikan menghitung jumlah produk tiap bulan pada industri yang telah dikunjungi.
6. Praktikan menghitung biaya tetap (fixed cost) mesin pada industri yang telah dikunjungi.
7. Praktikan menghitung total revenue (TR) yang ada pada industri yang telah dikunjungi.
8. Praktikan menghitung BEP normal pada industri yang telah dikunjungi.
9. Praktikan menghitung marginal income pada industri yang telah dikunjungi.
10. Praktikan menghitung BEP volume pada industri yang telah dikunjungi.
11. Praktikan menghitung BEP waktu pada industri yang telah dikunjungi.
12. Praktikan menghitung BEP rupiah dari industri tersebut.
13. Praktikan membuat grafik hubungan BEP volume dengan BEP rupiah pada industri yang telah dikunjungi.
14. Praktikan membuat grafik hubungan BEP waktu dengan BEP rupiah pada industri yang telah dikunjungi.
15.Praktikan menghitung kenaikan BEP volume, BEP waktu dan BEP rupiah pada kenaikan 10%, 20% dan 30% ada pada industri yang telah dikunjungi.

16. Praktikan membuat grafik kombinasi antara grafik-grafik kenaikan BEP volume, BEP waktu dan BEP rupiah pada kenaikan 10%, 20% dan 30%
17.Praktikum selesai, sebelum praktikum diakhiri praktikan berdo’a sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil
1. Diketahui:
a.Harga Produk = Rp.16000
b.Jumlah Produk tiap bulan = 2100 loyang
c.Fixed Cost = Mesin
= Rp.13.000.000
d.Variable Cost = Rp.17.775.000
e.Total Cost = FC + VC
= Rp.163.000.000 + Rp.17.775.000
= Rp.180.775.000
f.Total Revenue (TR) = Harga produk x jumlah produk
= Rp.33.600.000
2.Perhitungan
a.BEP normal
TR = Rp.33.600.000 100%
VC = Rp.17.775.000 VC = Rp.17.775.000 x 100 %
Rp.33.600.000
= 52,9 %
Marginal income (MI) = Rp.33.600.000 – Rp.17.775.000 MI = 100 – 52,9
= Rp.15.825.000 = 47,1%

FC = Rp.13.000.000
Profit = Rp.2825.000
BEP VOLUME = FC
Harga produk – vc
Jumlah produk
= Rp.13.000.000 = Rp.1725
Rp. 16000 – Rp.17.775.000
2100

BEP WAKTU = BEP volume
jumlah produk
= 1725
2100
= 0,82
BEP Rupiah = FC
MI %
= Rp.13.000.000
0,471
= Rp.27.600.849
b.Grafik hubungan BEP Volume vs BEP Rupiah

FC

c.Grafik hubungan BEP waktu vs BEP rupiah

3. Perhitungan BEP setelah kenaikan
a.Kenaikan 10%
TR 10% = TR + (10% x TR)

= Rp.33.600.000 + Rp.3360.000
= Rp.36.960.000
Produk = harga produk + (10% x price)
= Rp.16.000 + (10% x 16.000)
= Rp.16.000 + Rp.1.600
= Rp.17.600
b.Perhitungan
a.BEP normal 100%
TR = Rp.36960.000
VC = Rp.17.775.000 VC = Rp.17.775.000 x 100 %
Rp.36.960.000
= 48,1 %
Marginal income (MI) = Rp.36.960.000 – Rp.17.775.000 MI = 100 – 48,1
= Rp.19.185.000 = 51,9%

FC = Rp.13.000.000
Profit = Rp.6.185.000
BEP VOLUME = FC
Harga produk – vc
Jumlah produk
= Rp.13.000.000 = Rp.1422,9
Rp. 17600 – Rp.17.775.000
2100
BEP WAKTU = BEP volume
jumlah produk
= 1422,9
2100
= 0,678
BEP Rupiah = FC
MI %
= Rp.13.000.000

0,519
= Rp.25.048.159,56
b.Grafik hubungan BEP Volume vs BEP Rupiah

FC

c.Grafik hubungan BEP waktu vs BEP rupiah

3. Perhitungan BEP setelah kenaikan
a.Kenaikan 20%
TR 20% = TR + (20% x TR)
= Rp.33.600.000 + Rp.6.720.000
= Rp.40.320.000
Produk = harga produk + (20% x price)
= Rp.16.000 + (20% x 16.000)
= Rp.16.000 + Rp.3.200
= Rp.19.200
b.Perhitungan
a.BEP normal 100%

TR = Rp. 40.320.000
VC = Rp.17.775.000 VC = Rp.17.775.000 x 100 %
Rp. 40.320.000
= 44,08 %
Marginal income (MI) = Rp. 40.320.000 – Rp.17.775.000 MI = 100 – 44,08
= Rp.22.545.000 = 55,92%

FC = Rp.13.000.000
Profit = Rp.9.545.000
BEP VOLUME = FC
Harga produk – vc
Jumlah produk
= Rp.13.000.000 = Rp.1210
Rp. 19200 – Rp.17.775.000
2100
BEP WAKTU = BEP volume
jumlah produk
= 1210
2100
= 0,57
BEP Rupiah = FC
MI %
= Rp.13.000.000
0,5591
= Rp.23.247.496
b.Grafik hubungan BEP Volume vs BEP Rupiah



c.Grafik hubungan BEP waktu vs BEP rupiah

a.Kenaikan 30%
TR 30% = TR + (30% x TR)
= Rp.33.600.000 + Rp.10.080.000
= Rp.43.680.000
Produk = harga produk + (30% x price)
= Rp.16.000 + (30% x 16.000)
= Rp.16.000 + Rp.4800
= Rp.20.800
b.Perhitungan
a.BEP normal 100%
TR = Rp. 43.680.000

VC = Rp.17.775.000 VC = Rp.17.775.000 x 100 %
Rp. 43.680.000
= 40,69 %
Marginal income (MI) = Rp. 43.680.000 – Rp.17.775.000 MI = 100 – 40,69
= Rp.25.905.000 = 55,92%

FC = Rp.13.000.000
Profit = Rp.12.905.000
BEP VOLUME = FC
Harga produk – vc
Jumlah produk
= Rp.13.000.000 = Rp.1054
Rp. – 20.800 Rp.17.775.000
25550
BEP WAKTU = BEP volume
jumlah produk
= 1054
25550
= 0,49
BEP Rupiah = FC
MI %
= Rp.13.000.000
55,92%
= Rp.21.918.732
b.Grafik hubungan BEP Volume vs BEP Rupiah

FC

c.Grafik hubungan BEP waktu vs BEP rupiah

Grafik kombinasi ketiga kenaikan BEP tersebut (kenaikan 10%, 20% dan 30%)
BEP Vulome vs BEP Rupiah



Grafik kombinasi ketiga kenaikan BEP tersebut (kenaikan 10%, 20% dan 30%)
BEP Vulome vs BEP Rupiah


B.Pembahasan
Analisa dalam kelayakan suatu idustri perusahaan yang berdasarkan atas analisa BEP (break even point) adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan. Karena analisa break even point tersebut mempelajari hubungan antara biaya keuntungan – volume kegiatan, maka analisa (break even point) tersebut sering pula disebut “cost-profit-volume analisis” (CPV analisis) dan analisa break even point ini digunakan dalam pengambilan alternatif yang cukup sensitif terhadap variabel atau parameter dan bila nilai variabel tersebut sulit diestimasi. Analisa break even point juga merupakan “profit-planning approach” yang mendasarkan pada hubungan antara biaya (cost) dan penghasilan penjualan (revenue).
Masalah – masalah yang akan muncul bila melakukan analisa break even point dalam suatu uji kelayakan terhadap suatu perusahaan adalah perusahaan memiliki biaya variabel dan juga biaya tetap. Secara total, besarnya biaya variabel akan berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume produksi, sedangkan besarnya biaya tetap tidak mengalami perubahan meskipun ada perubahan pada volume produksi. Biaya yang termasuk biaya variabel adalah bahan mentah, biaya tenaga kerja langsung dan komisi penjualan. Sedangkan yang termasuk biaya variabel adalah depresiasi aktiva tetap, sewa, bunga hutang, gaji pegawai, gaji pimpinan, gaji staff research dan biaya kantor. Penghasilan penjualan setelah dikurangi biaya  variabel merupakan bagian dari penghasilan penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap biasanya dinamakan ‘contribution margin’ atau contribution to fixed cost’.
Bila contribution margin lebih besar daripada biaya total, berarti penghasilan penjualan lebih besar daripada biaya total. Volume penjualan dimana penghasilannya sama besarnya dengan biaya total (perusahaan tidak untung ataupun rugi) dinamakan dengan kondisi titik impas atau ’break even point’. Apabila digunakan konsep’contribution margin’ maka analisis break even point akan tercapai pada volume penjualan dimana contribution marginnya sama besarnya dengan biaya tetap. Karena analisa break even point tersebut mempelajari antara ‘revenue minus dari biaya variabel’ atau ‘contribution to fixed cost’ di satu pihak dengan biaya tetap di lain pihak, maka sering dikatakan bahwa analisa break even point merupakan salah satu alat untuk mempelajari ‘operating leverage’ dalam suatu perusahaan.
Maka, break even point dapat diartikan suatu keadaan dimana dalam operasi perusahaan, tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian (total revenue= total cost). Apabila 
perusahaan hanya mempunyai biaya variabel saja, maka tidak akan muncul masalah break even point dalam perusahaan tersebut. Masalah break even point baru muncul apabila suatu perusahaan di samping mempunyai biaya variabel juga mempunyai biaya tetap. Besarnya biaya variabel secara totalitas akan berubah – ubah sesuai dengan perubahan volume produksi, sedangkan  besarnya biaya tetap secara totalitas tidak mengalami perubahan meskipun ada perubahan volume produk
Prosedur praktikum yang dilakukan dalam melakukan analisa break even point terhadap uji kelayakan suatu perusahaan adalah sebagai berikut ini : Praktikan menghitung harga produk pada industri yang telah dikunjungi, kemudian menghitung jumlah produk tiap bulan pada industri yang telah dikunjungi, selanjutnya menghitung biaya tetap (fixed cost) mesin pada industri yang telah dikunjungi. Dan praktikan menghitung total revenue (TR) yang ada pada industri yang telah dikunjungi, selanjutnya menghitung BEP normal pada industri, kemudian menghitung marginal income pada industri yang telah dikunjungi tersebut, selanjutnya menghitung BEP volume pada industri yang telah dikunjungi. Selanjutnya praktikan menghitung BEP waktu pada industri yang telah dikunjungi pada saat kunjungan.
Praktikan selanjutnya menghitung BEP rupiah dari industri tersebut.Kemudian praktikan membuat grafik hubungan BEP volume dengan BEP rupiah pada industri yang telah dikunjungi, kemudin praktikan membuat grafik hubungan BEP waktu dengan BEP rupiah pada industri yang telah dikunjungi. Dan selanjutnya praktikan menghitung kenaikan BEP volume, BEP waktu dan BEP rupiah pada kenaikan 10%, kenaikan 20% dan pada kenaikan 30% ada pada industri yang telah dikunjungi tersebut. Dan yang terahir praktikan membuat grafik kombinasi antara grafik-grafik kenaikan BEP volume, BEP waktu dan BEP rupiah pada kenaikan 10%, 20% dan 30%.
Hasil yang diperoleh dari analisa break even point pada acara terahir praktikum ekonomi teknik adalah sebagai berikut : harga produk sebesar RP.16000. Kemudian jumlah produk tiap bulan 2100 loyang. Dan fixed cost yang dihitung dari besar dana yang digunakan untuk membeli mesin yankni sebesar Rp.13.000.000. Selanjutnya variable cost sebesar Rp.17.775.000. Sedangkan total cost dihitung dari Fixed Cost Rp.163.000.000 yang ditambahkan dengan Variable Cost Rp.17.775.000 sehingga nilai total cost menjadi Rp.180.775.000 dan total revenue (TR) adalah harga produk kemudian dikalikan dengan jumlah produk hasilnya Rp.33.600.000. Kemudian hasil perhitungan .BEP normal adalah 
TR (total revenue) Rp.33.600.000 yang dikurangi dengan VC (Variable Cost) Rp.17.775.000 menjadi nilai Marginal income. Besar dari Marginal income (MI) Rp.15.825.000. Nilai Marginal income yang dikurangi dengan Fixed Costakan menghasilkan profit sebesar Rp.2825.000. Perhitungan dari BEP VOLUME adalah dengan membagi fixed cost dengan hasil perhitungan dari harga produk yang dikurangi dengan Variable Cost yang sebelumya dibagi dengan jumlah produk dan hasilnya adalah 1725.
Perhitungan dari adalah dengan membagi hasil perhitungan BEP volume dengan jumlah produk dan hasilnya adalah 0,82. Perhitungan dari BEP rupiah dengan membagi nilai fixed cost dengan besar presentase Marginal income (MI %) dan hasilnya Rp.27.600.849. kemudian membuat grafik hubungan antara BEP Volume vs BEP Rupiah dan membuat grafik hubungan BEP waktu vs BEP rupiah. Dan terahir melakukan perhitungan BEP setelah kenaikan pada kenaikan 10%. Hasilnya TR-nya berubah menjadi Rp.33.600.000 + Rp.3360.000 dan sama dengan Rp.36.960.000. Harga produk jugan naik 10% maka harganya menjadi harga produk + (10% x harga) dan hasilnya Rp.17.600. Selanjutnya perhitungan BEP normal dari kenaikan 10% adalah sebesar Rp.36.960.000. Besar Marginal income (MI) adalah Rp.36.960.000 – Rp.17.775.000 hasilnya adalah sebesar Rp.19.185.000. Dan profitnya adalah Rp.6.185.000. BEP volumenya sebesar = Rp.1422,9. BEP waktunya dihasilkan dengan membagi BEP volume dengan jumlah produk, hasilnya 0,678 . Dan BEP Rupiah adalah sebesar Rp.25.048.159,56. Dengan cara yang sama juga digunakan untuk menghitung kenaikan 20% dan 30%. Untuk kenaikan 20% nilai TRnya adalah Rp.40.320.000, besar harga produk adalah Rp.19.200. Dalam perhitungan BEP normalnya yang 100% nilainya Rp. 40.320.000. Marginal income (MI) adalah Rp. 40.320.000 – Rp.17.775.000 hasilnya Rp.22.545.000. Profitnya adalah Rp.9.545.000. BEP Volumenya 1210 dan BEP waktunya adalah 0,57 dan besar BEP Rupiahnya adalah Rp.23.247.496 dan untuk kenaikan 30% maka TRnya adalah Rp.43.680.000. Harga produknya menjadi Rp.20.800. BEP normal pada 100%nya akan memilki nilai Marginal income (MI) dari Rp. 43.680.000 – Rp.17.775.000 dan hasilnya Rp.25.905.000. Profitnya pada kenaikan 30% adalah Rp.12.905.000. Kemudian untuk BEP Volumenya adalah sebesar 1054 . BEP Waktunya sebesar 0,49 dan BEP Rupiahnya sebesar 21.918.732.

Grafik yang telah terbentuk pada hasil adalah gambar grafik sebagai sebuah grafik yang menggambarkan hubungan antara BEP volume dibandingkan dengan BEP Rupiah yang menunjukan gambaran bahwa grafik bersifat positif, grafik naik ke atas dan menunjukan bahwa kondisi keuangan perusahaan tersebut mengalami keuntungan maka akan baik jika diteruskan. Analisa laporan keuangan kita dapat menggunakan rumus break even point untuk mengetahui : hubungan antara penjualan biaya dan laba, untuk mengetahui struktur biaya tetap dan biaya variabel, untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana perusahaan tidak mengalami laba dan rugi dan untuk mengetahui hubungan antara cost, volume, harga dan laba. Analisa break even point memberikan penerapan yang luas untuk menguji tindakan-tindakan yang diusulkan dalam mempertimbangkan alternatif-alternatif atau tujuan pengambilan keputusan yang lain. Analisa break even point tidak hanya semata-mata untuk mengetahui keadaan perusahaan yang break even saja, akan tetapi analisa break even point mampu memeberikan informasi kepada pimpinan perusahaan mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungan dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.
Manfaat yang dapat didapat dari uji analisis kelayakan suatu perusahaan berdasarkan uji break even point antara lain : analisa BEP (break even point) sangat berguna bagi perusahaan untuk menentukan besaran jumlah produksi yang akan dihasilkan dan nilai harga jual barang tersebut. Dengan menerapkan analisa BEP, perusahaan dapat melihat laba, kerugian, harga jual, produksi, keuntungan, dan lain sebagainya yang telah dapat diprediksi sebelumnya, sehingga mempermudah bagi pemimpin perusahaan untuk menentukan kebijaksanaan. Serta salah satu tujuan perusahaan adalah mencapai laba atau keuntungan sesuai dengan pertumbuhan perusahaan. Untuk mencapai laba yang semaksimal mungkin dapat dilakukan dengan tiga langkah sebagai berikut, yaitu : menekan biaya produksi maupun biaya operasional serendah-rendahnya dengan mempertahankan tingkat harga, kualitas dan kunatitas, menentukan harga dengan sedemikian rupa sesuai dengan laba yang dikehendaki, dan meningkatkan volume kegitan semaksimal mungkin. Dari ketiga langkah-langkah tersebut diatas tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah karena tiga faktor tersebut mempunyai hubungan yang erat dan saling berkaitan. Pengaruh salah satu faktor akan membawa akibat terhadap seluruh kegiatan operasi.

Oleh karena itu struktur laba dari sebuah perusahaan sering dilukiskan dalam break even point, sehingga mudah untuk memahami hubungan antara biaya, volume kegiatan dan laba. Kemudian Arti penting analisis break even point bagi menejer perusahaan dalam pengambilan keputusan keuangan adalah sebagai berikut, yaitu : guna menetapkan jumlah minimal yang harus diproduksi agar perusahaan tidak mengalami kerugian, penetapan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba tertentu serta penetapan seberapa jauhkan menurunnya penjualan bisa ditolerir agar perusahaan tidak menderita rugi.
Analisis break even point sering digunakan dalam hal yang lain misalnya dalam analisis laporan keuangan. Dalam analisis laporan keuangan kita dapat menggunakan rumus ini untuk mengetahui: hubungan antara penjualan, biaya, dan laba. Kemudian struktur biaya tetap dan variable, kemampuan perusahaan memberikan margin unutk menutupi biaya tetap, kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana perusahaan tidak mengalami laba dan rugi. Selanjutnya, dengan adanya analisis titik impas tersebut akan sangat membantu manajer dalam perencanaan keuangan, penjualan dan produksi, sehingga manajer dapat mengambil keputusan untuk meminimalkan kerugian, memaksimalkan keuntungan, dan melakukan prediksi keuntungan yang diharapkan melalui penentuan harga jual persatuan, produksi minimal, dan pendesainan produk, dan lainnya.
Dalam penentuan titik impas  perlu diketahui terlebih dulu hal-hal dibawah ini agar titik impas dapat ditentukan dengan tepat, yaitu: tingkat laba yang ingin dicapai dalam suatu periode, kapasitas produksi yang tersedia, atau yang mungkin dapat ditingkatkan, besarnya biaya yang harus dikeluarkan, mencakup biaya tetap maupun biaya variabel. Maupun rugi tertentu disamping itu juga untuk mengetahui pada volume penjualan atau produksi berapakah suatu perusahaan belummendapat laba atau rugi. Sehingga hal itu dijadikan dasar oleh pimpinan sebagai pengambilan keputusan di masa periode tersebut dan di masa yang akan datang.
Analisis break even secara umum juga dapat memberikan informasi kepada pimpinan, bagaimana pola hubungan antara volume penjualan, cost/biaya, dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu. Analisis break even dapat membantu pimpinan dalm mengambil keputusan mengenai hal-hal sebagai berikut: jumlah penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian, jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu. Kemudian seberapa jauhkah berkurangnya 
penjualan agar perusahaan tidak menderita rugi, untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan volume penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh.
Analisis break even point ini selain digunakan untuk menganalisis pada unit berapa atau pada omzet penjualan berapa perusahaan tidak menderita rugi dan tidak menerima keuntungan. Menurut Susan Irawati dalam bukunya “Manajemen Keuangan” memaparkan kegunaan break even point adalah sebagai berikut : untuk menunjukkan berapa tingkat penjualan yang harus dicapai, jika perusahaan ingin mendapatkan laba, untuk membantu menganalisis rencana untuk modernisasi atau otomatisasi untuk mengganti biaya variabel menjadi biaya tetap, untuk membantu menganalisis pengaruh-pengaruh dari ekspansi terhadap tingkat operasi atau kegiatan, dan untuk membantu dalam keputusan mengenai produk baru dalam hal biaya dan hasil penjualan.
BEP juga dapat digunakan dengan dalam tiga cara terpisah, namun ketiganya saling berhubungan, yaitu  untuk: menganalisa program otomatisasi  dimana suatu perusahaan akan beroperasi secara lebih mekanis dan otomatis dan mengganti biaya variabel dan biaya tetap, menelaah impak dari perluasan tingkat operasi secara umum dan untuk membuat keputusan tentang produk baru yang harus dicapai jika perusahaan menginginkan BEP dalam suatu proyek yang diusulkan. Kemudian kelemahan utama dari analisa BEP ini antara lain : asumsi tentang linearity, kliasifikasi cost dan penggunaannya terbatas untuk jangka waktu yang pendek. Asumsi-asumsi dasar analisi BEP adalah menentukan posisi laba rugi perusahaan, menentukan penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami  kerugiaan dan menetukan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu. Kemudian komponen yang berperan pada BEP yaitu biaya, biaya yang dimaksud adalah biaya variabel dan biaya tetap, dimana pada prakteknya untuk memisahkan atau menentukan suatu biaya itu biaya variabel atau tetap bukanlah pekerjaan yang mudah dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produksi jadi kalau tidak produksi maka tidak ada biaya ini.

BAB V
PENUTUP
A.Kesimpulan
1.Dari analisis break even point pada keadaan normal yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan ini mengalami titik impas jika sudah bisa mempunyai nilai BEP volume sebesar 1725,09, BEP waktu sebesar 0,82 dan besar BEP rupiah sebesar 2760849 karena dalam nilai BEP tersebut didapatkan hasil grafik yang bernilai positif.
2.Analisis break even point ini juga bisa dilakukan dengan perhitungan yang dilakukan dengan bantuan spreadsheet yang ada pada software pada komputer. Misalnya pada software Microsoft Exel.
3. Startegi penetrasian segmen dan negara (Country and segment penetration strategy) yang berarti pemusatan pada segmen atau celah pasar tertentu di beberapa negara dan pada kenaikan setahap demi setahap pada jumlah pasar yang dilayani, sehingga perusahaan industri rumah tangga mampu bersaing sedikit demi sedikit dengan industri besar.
B.Saran
1.Untuk acara praktikum akan lebih baik apabila diskusinya di tempat yang sejuk dan rindang.
2.Untuk laboratorium manajemen sistem industri akan lebih nyaman saat didalam laboratorium apabila laboratorium selalu wangi dan sejuk.
3.Untuk assisten, mohon agar saat diskusi bisa dimulai,berjalan dan berahir tepat waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012.Analisa Break Even Point. Dari http://jurnal-akuntansi.blogspot.com/2012/05/analisa-break-even-point.html diakses pada tanggal 11 mei 2013 pada pukul 17:02 WIB

Halim,Abdul.2006.Warren Reeve Fess Accounting Pegantar Akuntansi.Penerbit Salemba.Semarang

Henkimer,Jr dan Allen G.1986.Understanding Hospital Financial Manajement.Jones and Bart lelt learnig.USA

Muljohardjo,Muchi.2006.Aplikasi Exel dalam Bisnis Perbankan Terapan.Elek Media Komputindo.Jakarta

Suryani,Ani.2011.Bisnis Kue Kering.Niaga Swadaya.Jakarta

laporan net present value

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Suatu bisnis adalah usaha menukarkan barang atau jasa yang kita miliki dengan suatu keuntungan. Profit yang diharapkan oleh suatu usaha bisnis tidak hanya keuntungan yang berupa uang tapi juga jaminan kelangsungan daur kehidupan produk dan instalasi bisnis tersebut. Disamping itu aspek-aspek ekonomi makro dan ekonomi mikro pun berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan usah bisnis. Dan keadaan ekonomi saat ini relative tidak menentu dan sulit ditebak. Maka dari hal itulah yang melatar belakangi adanya suatu metode pengkuran kelayakan suatu usaha bisnis. Ada beberapa metode analisis kelayakan terhadap suatu usaha bisnis.
Pembelajaran mengenahi analisis kelayakan dengan metode Net Present Value (NPV) merupakan salah satu metode perhitungan kelayakan terhadap usaha bisnis yang kita tekuni merupakan suatu poin yang penting dilakukan. Penganalisaan serta perhitungan dengan metode kelayakan merupakan salah suatu usaha dengan metode Net Present Value (NPV) ini bertujuan sebagai tolak ukur keberlangsungan usaha bisnis yang kita tekuni. Karena poin awal dan terpenting dalam suatu bisnis adalah menukarkan barang ataupun jasa yang kita bisniskan dengan keuntungan. Secara kongrit keuntungan yang diperoleh dapat diukur dari seberapa besar keuntungan material yang mampu diraih oleh suatu usaha bisnis dan seberapa lama daur hidup usaha bisnis tersebut.
Agroindustri merupakan usaha bisnis yang bergerak pada pengolahan sektor pertanian pasca panen, kemudian dalam manajemen bisnis agroindustri ini pemahaman dan penguasaan materi Net Present Value (NPV) merupakan suatu keharusan karena keberlangsungan usaha bisnis dari agroindutri rentan terhadap pengaruh eksternal. Terdapat berbagai faktor eksternal yang mempengaruhi kelangsungan daur hidup bisnis agroindustri yang patut mendapat perhatian lebih. Karena jika faktor-faktor tersebut diabaikan maka akan memberikan dampak pada usaha bisnis kita. Selain itu faktor internal dari 
bahan pertanian pasca panen juga mempengaruhi kualitas produk yang kemudian dengan karakteristik-karakteristik yang dimiliki bahan. Beberapa aspek juga yang harus diperhatikan dalam penganalisaan Net Present Value (NPV) ini adalah aspek-aspek berikut ini: analisis aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis, aspek ekonomi, aspek organisasi dan manajemen, aspek hukum dan aspek finansial.

B.Tujuan Praktikum
1.Melakukan analisis kelayakan investasi dari suatu industri pertanian.
2.Menggunakan perangkat lunak komputer sebagai alat untuk melakukan analisis suatu proyek investasi.
3.Menganalisa dan menentukan startegi pengembangan industri pertanian yang dapat diterapkan perusahaan berdasarkan hasil analisa ekonomis yang telah dilakukan.


BAB II
LANDASAN TEORI
Terdapat banyak sekali teknik yang bias digunakan dalam perhitungan fisibilitas ekonomi suatu proyek. Karena banyak sekali sistem informasi yang dapat digunakan dalam aplikasi perhitungannya dan rata-rata umur hitung tersebut bias lebih dari satu tahun dan akan terus berkembang sesuai keunggulan dan ekspansi yang telah digunakan lebih dari satu tahun tersebut. Kebanyakan analisis yang digunakan merupakan analisis yang berbasis pada TMV (Time value of money), dan beberapa analisis diantaranya memiliki tingkat perhitungan yang simpel dalam perhitungannya dan sebagian yang lain tidak demikian(Dixit,2002).
Ada beberapa perhitungan di dalam analisis usaha yang penggunannya disesuaikan degan tujuan analisisnya. Kreteria kelayakan investasi yang digunakan adalah Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Parameter lain yang dapat digunakan untuk mengetahui kelayakan usaha adalah Benefit Cost Ratio (B/C) dan Return of Investnment (ROI). NPV merupakan salah satu criteria perhitungan investasi untuk menghitung apakah suatu proyek layak atau tidak diusahakan. Bila NPV positif (NPV> 0), usaha tersebut layak untuk diteruskan(Hubeis,2009).
Metode Net Present Value (NPV) merupakan salah satu metode perhitungan kelayakan investasi yang banyak digunakan karena mempertimbangkan nilai waktu uang. Net Present Value (NPV) menghitung selisih antara nilai investasi dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih. Jika hasil perhitungan menunjukkan angka yang positif, usulan investasi dapat dipertimbangkan diterima. Kondisi sebaliknya, usulan investasi sebaiknya ditolak(Mujohardjo,2006).
Alasan lebih mendasar untuk mempelajari pemasaran adalah karena pemasaran memainkan bagian yang besar dalam pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Satu alasan yang penting adalah pemasaran mendorong terjadinya riset dan inovasi (innnovation) pengembangan dan penyebaran ide-ide barang dan jasa baru. Ketika perusahaan menawarkan cara yang baru dan lebih baik untuk memasarkan kebutuhan pelanggan. Pelanggan memiliki pilihan produk yang lebih 
banyak dan hal ini mendorong kompetisi untuk mendapatkan ruang perdagangan(Perreault,2008).
Biaya merupakan salah satu faktor yang penting dalam melakukan suatu usaha dan merupakan nlai dari semua korbanan yang diperlukan untuk menghasilkan produksi. Biaya usahatani terdiri dari atas biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh petani pada tahun-tahun awal (tahun ke-0) dan tidak habis dipakai dalam satu kali kegiatan produksi, dinyatakan dalam satuan rupiah(Rp)(Siswaluya,2012).


BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A.Alat dan Bahan
1.Alat
a. Alat tulis.
b.Kertas HVS.
c.Kalkulator.
2.Bahan
a.Data hasil kunjungan Industri
b.Modul Praktikum

B.Prosedur Praktikum
1.Sebelum praktikum dimulai, praktikan dan asisten terlebih dahulu membuka praktikum dengan membaca do’a menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
2.Praktikan belajar selama beberapa menit sebelum pre-test dilakukan.
3.Praktikan mengerjakan soal pre-test yang telah diberikan oleh asisten.
4. Praktikan menghitung biaya investasi pada industri yang telah dikunjungi.
5.Praktikan menghitung biaya depresiasi gedung pada industri yang telah dikunjungi.
6. Praktikan menghitung biaya depresiasi mesin pada industri yang telah dikunjungi.
7. Praktikan menghitung total depresiasi yang ada pada industri yang telah dikunjungi.
8. Praktikan menghitung biaya produksi pada industri yang telah dikunjungi.
9. Praktikan menghitung harga produk pada industri yang telah dikunjungi.
10. Praktikan menghitung kapasitas produksi tiap tahunnya pada industri yang telah dikunjungi.
11. Praktikan menghitung total biaya yang digunakan pada industri yang telah dikunjungi.
12. Praktikan menghitung penjualan produk dari industri tersebut.

13. Praktikan menghitung Gross Margin pada industri yang telah dikunjungi.
14. Praktikan mengitung pendapatan sebelum pajak dan bunga pada industri yang telah dikunjungi.
15.Praktikan menghitung pajak yang ada pada industri yang telah dikunjungi.
16. Praktikan menghitung pendapatan setelah pajak dan bunga
17. Praktikan menghitung present value.
18.Praktikum selesai, sebelum praktikum diakhiri praktikan berdo’a sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil
1. Menghitung biaya investasi = biaya bangunan + mesin (utama)
= Rp.150.000.000 + Rp.13.000.000
= Rp.163.000.000
2. Menghitung biaya depresiasi gedung = harga – ( 10% x harga)
umur
= Rp.150.000.000–(10%x Rp. 150.000.000)
17 tahun
= Rp.135.000.000
17
= Rp. 7.941.176
3. Menghitung biaya depresiasi mesin = harga – ( 10% x harga)
umur
= Rp.13.000.000 – ( 10% x Rp.13.000.000
8 tahun

= Rp.1.462.500
4. Menghitung total depresiasi = Rp. 7.941.176 + Rp.1.462.500
= Rp.9.403.676
5. Menghitung biaya produksi = biaya bahan baku + biaya tenaga kerja + listrik
= Rp.142.350.000 + Rp.54.750.000 + Rp.600.000
= Rp.197.700.000
6. Menghitung harga produk = Rp.16.000 / buah.
7. Menghitung kapasitas produksi dalam satu tahun = 25.550 / tahun.
8. Menghitung total biaya = total investasi + total biaya produksi
= Rp.163.000.000 + Rp.197.700.000
= Rp.360.700.000
9. Menghitung penjualan produk = harga produk x kapasitas produksi
= Rp.16.000 x 25.550

= Rp. 408.800.000
10. Menghitung Gross Margin = penjualan – total biaya
= Rp. 408.800.000 – Rp.360.700.000
= Rp.48.100.000
a.Periode 0 = 0 – Rp.163.000.000
= – Rp.163.000.000
b. Periode 1 – 10 = penjualan pertahun – biaya produksi
= Rp.398.720.000 – Rp. 197.700.000
= Rp.201.020.000
11. Menghitung pendapatan sebelum pajak dan bunga
= Gross Margin – total biaya depresiasi
= Rp. 48.100.000 – Rp.9.403.676
= Rp.38.696.324
a.Periode 0 = 0 – Rp.163.000.000
= – Rp.163.000.000 …(a).
b. Periode 1 – 10 = Gross Margin – total biaya depresiasi
= Rp. 48.100.000 – Rp.9.403.676
= Rp.38.696.324 …( b)
12. Menghitung pajak ( 1,5 % ) = pajak x pendapatan sebelum pajak dan bunga
= 1,5 % x Rp.38.696.324
= Rp. 580.444
a.Periode 0 = 1,5 % x – Rp.163.000.000
= – Rp.2.445.000 …( c ).
b.Periode 1 – 10 = 1,5 % x Rp. 38.696.324
= Rp. 580.444
13. Menghitung pendapatan setelah pajak dan bunga
= pendapatan sebelum pajak – pajak
= Rp. 38.696.324 – Rp. 580.444
= Rp.38.115.580 …(d).
a.Peroide 0 = (a) – ( c )
= – Rp.163.000.000 – (- Rp.2.445.000)

= – Rp.160.555.000 …( e ).
b.Peroide 1- 10 = (b) – (d)
= Rp.38.696.324 – Rp. 580.444
= Rp.38.115.879 …( f ).
14. Menghitung present value (PV).
PV0 = e x 1
(1 + r)n
= – Rp.160.555.000 x 1
(1 + 1,8)10
= – Rp.160.555.000 x 5,23
= – 30
PVn = f x 1
(1 + r)n
PV1 = Rp.38.115.879 x 1
(1 + 1,8)1
= Rp.32.301,192
PV2 = Rp.38.115.879 x 1
(1 + 1,8)2
= Rp.27.374.230
PV3 = Rp.38.115.879 x 1
(1 + 1,8)3
= Rp.23.241.389
PV4 = Rp.38.115.879 x 1
(1 + 1,8)4
= Rp.19.659.746
PV5 = Rp.38.115.879 x 1
(1 + 1,8)5
= Rp.16.660.802
PV6 = Rp.38.115.879 x 1
(1 + 1,8)6
= Rp.14.119.323

PV7 = Rp.38.115.879 x 1
(1 + 1,8)7
= Rp.11.965.528
PV8 = Rp.38.115.879 x 1
(1 + 1,8)8
= Rp.10.140.278
PV9 = Rp.38.115.879 x 1
(1 + 1,8)9
= Rp.8.593.456
PV10 = Rp.38.115.879 x 1
(1 + 1,8)10
= Rp.7.282.590

B.Pembahasan
Present Value adalah nilai yang diperoleh dari hasil pendapatan pada periode nol dari suatu perusahaan yang dikurangi dengan nilai pajak yang ditanggung oleh perusahaan makanan yakni pajak sebesar 1,5% pada periode nol sedangkan Net Present Value (NPV) adalah salah satu metode perhitungan kelayakan investasi yang banyak digunakan karena mempertimbangkan nilai waktu uang. Net Present Value (NPV) menghitung selisih antara nilai investasi dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih. Jika hasil perhitungan menunjukkan angka yang positif, usulan investasi dapat dipertimbangkan untuk diterima. Kalau kondisi sebaliknya, maka usulan investasi sebaiknya ditolak.
Kemudian ada juga pendapat bahwa ada beberapa perhitungan di dalam analisis usaha yang penggunannya disesuaikan degan tujuan analisisnya. Kreteria kelayakan investasi yang digunakan adalah Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Parameter lain yang dapat digunakan untuk mengetahui kelayakan usaha adalah Benefit Cost Ratio (B/C) dan Return of Investnment (ROI). NPV merupakan salah satu criteria perhitungan investasi untuk menghitung apakah suatu proyek layak atau tidak diusahakan. Bila NPV

positif (NPV> 0), usaha tersebut layak untuk diteruskan.
Aspek-aspek berikut ini merupakan aspek yang juga termasuk dalam kriteria pernilaian dalam proyek investasi dari suatu usaha. Diantaranya adalah aspek-aspek besarnya biaya investasi awal yang digunakan sebagai modal, misalnya biaya bangunan dan biaya untuk membeli mesin utama yang akan kita gunakan dalam menjalankan usaha kita dalam memproduksi produk kita. Kemudian aspek biaya depresiasi dari bangunan yang kita gunakan dan juga biaya depresiasi dari mesin yang kita gunakan dalam beroperasi untuk menghasilkan produk. Aspek dalam pengadaan produk (aspek biaya produksi) juga penting untuk diperhitungkan, karena biaya produksi merupakan biaya kombinasi antara biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya eksternal lain ynag berhubungan dalam proses produksi produk kita.
Kemudian aspek aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah harga untuk tiap-tiap satuan produk yang kita berikan sebagai suatu nilai untuk menghargai produk yang telah kita produksi dari proses produksi dalam perusahaan kita. Besar kapasitas produksi produk yang bias kita hasilkan dalam suatu satuan waktu kemudian dibandingkan dengan harga untuk tiap-tiap satuan produk dan kemudian mengkalkulasikannya. Besar total biaya yang kita tanggung sebagai akibat dari proses produksi yang kita lakukan di perusahaan. Dana yang bisa kita kumpulkan dari hasil penjualan produk yang telah kita produksi. Selanjutnya adalah besar pendapatan kotor yang kita peroleh dalam kurun waktu selama kita memproduksi produk kita.
Dan juga penilaian dari aspek besar pendapatan kita sebelum dibandingkan dengan besar pendapatan sesudah pembayaran terhadap kewajiban pajak atas perusahaan kita. Dan aspek yang terahir adalah penilaian dari aspek pendapatan preent value yang didapatkan oleh perusahaan selama perusahaan tersebut mampu untuk beroperasi ( dalam skala hitungan tahun). Selain aspek- aspek di atas tentunya akan masih banyak aspek lain yang bisa digunakan dalam penialaian nilai kelayakan dari suatu perusahaan bila ingn lebih mendapatkan informai yang terperinci dan lebih kompleks. Tapi sementara dalam acara praktikum yang telah dilakukan oleh pada acara 
praktikum uji analisis kelayakan perusahaan berdasarkan analisis Net Present Value barulah melakukan penganalisaan yang memperhatikan aspek-aspek yang telah dijelaskan sebelumya.
Data yang diperoleh sebagai hasil sebagai berikut : Pertama-tama melakukan penghitungan terhadap besar biaya investasi yang diperoleh dari biaya bangunan yang digunakan untuk memproduksi produk sebesar Rp.150.000.000 dan juga biaya pembelian mesin (utama) untuk memproduksi produk sebesar Rp.13.000.000 dan hasilnya didapatkan jumlah data sebagai berikut Rp.163.000.000. Menghitung biaya depresiasi gedung dengan cara menghitung harga mesin kemudian dikurangi ( 10% dari harga) dan selanjutnya hasilnya dibagi dengan lama umur dan didapatkan data sebagai berikut Rp.150.000.000 kemudian dikurangi dengan(10% x Rp. 150.000.000) kemudian hasilnya dibagi dengan lama umur gedung yakni 17 tahun dan hasilnya adalah sebesar Rp. 7.941.176. selanjutnya menghitung biaya depresiasi mesin dengan cara yang sama seperti cara menghitung nilai depresiasi bangunan hanya saja bedanya pada lama umur mesin yang hanya 8 tahun dan hasilnya adalah sebesar Rp.1.462.500.
Menghitung total depresiasi dengan menambahkan antara Rp. 7.941.176 dengan Rp.1.462.500 dan hasilnya adalah Rp.9.403.676. kemudian menghitung biaya produksi yakni biaya dari kalkulasi antara biaya bahan baku sebesar Rp.142.350.000, biaya tenaga kerja yakni sebesar Rp.54.750.000 dan biaya beban listrik yang ditanggung perusahaan sebesar Rp.600.000 maka hasilnya Rp.197.700.000. Menghitung harga produk sebesar Rp.16.000 / buah. Kemudian menghitung kapasitas produksi dalam satu tahun sebesar 25.550 buah. Dan menghitung total biaya yang ditanggung yakni biaya total investasi yakni Rp.163.000.000 yang ditambahkan dengan total biaya produksi Rp.197.700.000 dan didapatkan bahwa besar hasilnya adalah sebesar Rp.360.700.000.
Menghitung penjualan produk yakni akumulasi dari harga produk yang dikalikan dengan kapasitas produksi maka secara matematis bias dituliskan sebagai berikut ini Rp.16.000 sebagai harga persatuan produk x kapasitas 
produksi sebesar 25.550 maka hasilnya adalah Rp. 408.800.000. kemudian menghitung nilai dari Gross Margin yang didapatkan dari penjualan produk Rp. 408.800.000 yang dikurangi dengan total biaya Rp.360.700.000 maka hasilnya adalah Rp.48.100.000. Kemudian menghitung nilai dari Gross Margin pada periode awal yakni dengan meghitung variabel 0 yang dikurangi dengan Rp.163.000.000 dan hasilnya – Rp.163.000.000 (karena belum dapat menghasilkan kas dan pemasukan dari hasil penjualan produk). Kemudian menghitung nilai dari Gross Margin pada periode 1 sampai 10 tahun dengan mengkalkuasikan nilai penjualan pertahun Rp.398.720.000 yang di kurangi dengan biaya produksi Rp. 197.700.000 maka hasilnya sebesar Rp.201.020.000.
Menghitung pendapatan sebelum pajak dan bunga dengan menghitung besar Gross Margin Rp. 48.100.000 yang dikurangi dengan total biaya depresiasi Rp.9.403.676 maka hasi yang diperoleh yakni Rp.38.696.324. kemudian perhitungan pada periode awal dan didapatkan hasil sebesar – Rp.163.000.000 (karena belum dapat menghasilkan kas dan pemasukan dari hasil penjualan produk). Kemudian pada periode tahun ke-1 sampai tahun ke- 10 maka nilainya sama dengan mengkurangkan Gross Margin Rp. 48.100.000 dengan total biaya depresiasi sebesar Rp.9.403.676 maka didapatkan hasil sebesar Rp.38.696.324. kemudian menghitung pajak ( 1,5 % ) sebagai besar pajak yang harus ditanggung oleh perusahaan makanan kemudian caranya dengan mengkalikan pajak 1,5% dengan pendapatan sebelum pajak dan bunga Rp.38.696.324 dan hasilnya adalah Rp. 580.444. Kemudian perhitungan pada periode awal yakni sebesar 1,5 % yang dikalikan dengan nilai – Rp.163.000.000 maka hasilnya – Rp.2.445.000 dan perhitungan pada periode tahun ke-1sampai tahun ke-10 dan hasilnya adalah Rp. 580.444.
Menghitung pendapatan setelah pajak dan bunga dengan cara mengkurangkan antara pendapatan sebelum pajak sebesar Rp. 38.696.324 dengan Rp. 580.444 maka hasilnya adalah Rp.38.115.580. Kemudian pada peroide awal akan didapatkan cara perhitungan sebagai berikut- Rp.163.000.000 – (- Rp.2.445.000) maka hasilnya adalah – Rp.160.555.000. 
Selanjutnya perhitungan pada peroide pada tahun1sampai 10 Rp.38.696.324 – Rp. 580.444 dan hasilnya Rp.38.115.879 dan yang terahir adalah menghitung present value (PV). Dengan rumus PV0 dari e (menghitung pendapatan setelah pajak pada tahun awal) x 1/(1 + r)n maka didapatkan hasil sebesar – 30. Dan untuk PVn = f (menghitung pendapatan setelah pajak pada tahun pertama sampai tahunke sepuluh ) x 1/ (1 + r)n. Dan hasilnya untuk PV1 adalah Rp.32.301,192, untuk PV2 adalahRp.27.374.230,PV3 dan hasilnya Rp.23.241.389, PV4 sebesar Rp.19.659.746, PV5 adalah Rp.16.660.802, PV6 dan hasilnya Rp.14.119.323, PV7 adalah Rp.11.965.528, PV8 adalah Rp.10.140.278, PV9 adalah Rp.8.593.456 dan PV10 adalah sebesar Rp.7.282.590.
Dari penganalisaan yang telah dilakukan dengan metode penganalisaan Net Present Value pada uji kelayakan suatu usaha utamanya bagi perusahaan pertanian yang dilakukan dengan sampel industri “Dino” perusahan kue kukus Pelangi dan kue Zebra ini layak untuk diteruskan. Karena nilai perhitungan bernilai positif. Kemudian manfaat yag diperoleh dari penganalisaan secara Net Present Value ini adalah kita mampu memperkirakan kelayakan suatu perusahaan untk diteruskan ataukah mau diberhentikan. Ketika perolehan nilai Net Present Value negative maka sebaiknya perusahaan tidak diteruskan karena akan semakin merugikan bila diteruskan. Sebaliknya bila niai Net Present Value dari suatu perusahaan bernilai positif maka akan sangat saying sekali jika di tutup, padahal perusahaan tersebut menguntungkan.
Nilai Present Value turun karena seperti yag kita ketahui bersama bahwa Present Value merupakan perhitungan dari pendapatan yang diperoleh setelah membayar tanggungan pajak atas perusahaan yang kita miliki, pendapatan yang diperoleh setelah membayar tanggungan pajak atas perusahaan yang kita miliki pada tahun awal akan tetap tinggi nilainya karena proses produsi masih lancer, operasi pun berjalan secara efektif dan efisien. Kemudian pada tahun kedua pendapatan yang diperoleh setelah membayar tanggungan pajak atas perusahaan yang kita miliki semakin meunrun hal ini dikarenakan daya efisiensi mesin dan sumber daya manusia yang kita berdayakan mengalami

penurunan tingkat efisiensifitas dalam bekerja. Dan begitu juga seterusnya semakin bertambah tahun maka proses produksi maka akan semakin menurun dan pendapatan yang kita peroeh pun akan semakin menurun, karena nilai umur mesin sebanding dengan besar pendapatan yang akan kita terima dari proses produksi produk kita. Semakin tahun mesin dan tenaga kerja manusia yang kita gunakan dalam proses produksi akan semakin tua, semakin berkurang nilai produktivitasnya atau bahkan semakin lama maka baik mesin atau tenaga kerja kita akan tidak berfungsi lagi dalam membantu kita dlam proses produksi produk kita. Selai karena tingkat produktivitas yang menurun jumlah produk yang mampudihasilkan tiap tahun juga akan berkurang seiring dengan makin tuanya mesin dan tenaga kerja.


BAB V
PENUTUP
A.Kesimpulan
1.Dari analisis yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa investasi dapat dipertimbangkan untuk diterima karena dari perhitungan yang dilakukan didapatkan hasil bahwa nilai bersifat positif.
2.Analisis net present value ini juga bisa dilakukan dengan perhitungan yang dilakukan dengan bantuan spreadsheet yang ada pada software pada komputer. Misalnya pada software Microsoft Exel.
3. Startegi penestrasian segmen dan negara (Country and segment penetration strategy) yang berarti pemusatan pada segmen atau celah pasar tertentu di beberapa negara dan pada kenaikan setahap demi setahap pada jumlah pasar yang dilayani, sehingga perusahaan industri rumah tangga mampu bersaing.
B.Saran
1.Untuk acara praktikum akan lebih baik apabila diskusinya di tempat yang sejuk dan rindang.
2.Untuk laboratorium manajemen sistem industri akan lebih nyaman saat didalam laboratorium apabila laboratorium selalu wangi dan sejuk.
3.Untuk assisten, mohon agar saat diskusi bisa dimulai,berjalan dan berahir tepat waktu.


DAFTAR PUSTAKA

Dixit,J.B dan Rai Kumar. 2002. Structured System Analysis and Design.Firewall Media.New Delhi

Hubeis, Musa dkk.2009.Agribisnis Tanaman Perkebunan.Niaga Swadaya.Jakarta

Muljohardjo,Muchi.2006.Aplikasi Exel dalam Bisnis Perbankan Terapan.Elek Media Komputindo.Jakarta

Perreault, McCharty.2008.Pemasaran Dasar Pendekatan Manajerial Global.Salemba Empat.Jakarta

Siswaluya, Wahid dkk.2012.Analisis Kelayakan Investasi pada Usaha Tani Buah Naga Super Red Milik Bapak Khodir di Liang Anggan Banjarbaru. Dari http://www.pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/bt13208k.pdf diakses 28 april 1:54 diakses pada tanggal 10 Mei 2013 pukul 20:20 WIB

semoga biisa membantu..

pentingnya makan makanan yang sehat

Makan merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk melangsungkan hidupnya. Melalui makanan, manusia mendapatkan kenikmatan berupa rasa kenyang. Namun, makanan bukan hanya sekedar penghilang lapar. Oleh karena itu, ada baiknya Anda memperhatikan apa yang Anda makan sebagai pola hidup sehat.

Menjadi pemakan makanan sehat bukan berarti harus tahu rumus menghitung gizi. Tidak perlu mengetahui rumus untuk menghitung kalori. Menjadi pemakan makanan sehat berarti memakan makanan sesuai dengan asupan gizi yang diperlukan oleh tubuh. Ada kalanya makanan sehat untuk tidak sehat dimakan untuk orang tertentu. Hal ini berkaitan dengan orang yang menderita penyakit tertentu yang mempunyai pantangan memakan makanan tertentu yang kalau dilanggar bisa memperlambat bahkan menghambat penyembuhan penyakit tersebut. Jadi, makanan sehat untuk orang tertentu belum tentu baik juga untuk orang lain. dari:http://www.iniloh.net/2012/07/manfaat-makanan-sehat-dan-bergizi.html